
Jangan Tunggu Kecelakaan untuk Belajar tentang Keselamatan Laboratorium
Oleh: Fera Annisa, M.Sc
Laboratorium sering dipandang sebagai ruang untuk menguji teori, membuktikan rumus, dan menemukan jawaban melalui eksperimen. Namun, ada satu pelajaran yang tidak kalah penting dan seharusnya selalu menyertai setiap kegiatan praktikum yaitu keselamatan. Sebagai dosen Pendidikan Fisika, saya melihat bahwa keberhasilan sebuah praktikum tidak semestinya hanya diukur dari berhasil atau tidaknya suatu percobaan. Cara mahasiswa menggunakan alat, mengenali risiko, mematuhi prosedur, dan bertanggung jawab juga merupakan bagian penting dari proses belajar.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sering dikaitkan dengan dunia industri. Padahal, laboratorium perguruan tinggi juga memiliki berbagai potensi bahaya. Peralatan listrik, sumber panas, benda mekanik, kaca, hingga kesalahan penggunaan alat dapat menimbulkan risiko apabila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, kebiasaan bekerja secara aman perlu dibangun sejak mahasiswa berada di bangku kuliah. Apa yang mereka pelajari di laboratorium hari ini dapat menjadi kebiasaan profesional ketika kelak mereka memasuki dunia kerja atau menjadi guru di sekolah.
Dalam pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE), keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari penguasaan pengetahuan. Mahasiswa juga dituntut memiliki sikap, keterampilan, tanggung jawab, serta kemampuan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata. Dari sudut pandang ini, keselamatan bukan tambahan di luar pembelajaran, melainkan bagian dari kompetensi yang perlu dibentuk. Mahasiswa yang mampu menyelesaikan eksperimen tetapi mengabaikan keselamatan belum sepenuhnya menunjukkan kemampuan bekerja secara profesional.
Pengalaman sebagai dosen pengampu Mata Kuliah Praktikum di laboratorium Pendidikan Fisika di UIN Ar-Raniry Banda Aceh menunjukkan bahwa berbagai unsur keselamatan telah menjadi bagian dari kegiatan praktikum. Terdapat prosedur kerja, pengarahan sebelum kegiatan, penggunaan alat pelindung diri, fasilitas pemadam kebakaran dan pertolongan pertama, tanda keselamatan, serta pengawasan dari dosen, laboran dan asisten laboratorium. Mahasiswa pada umumnya telah menunjukkan kepatuhan terhadap aturan dan mampu menggunakan peralatan dengan lebih tertib.
Namun, membangun budaya keselamatan tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas dan membuat aturan. Tantangan yang menarik justru muncul dari kebiasaan manusia. Pada awal semester, mahasiswa biasanya cukup disiplin mengikuti arahan. Seiring berjalannya waktu, kewaspadaan dapat menurun. Rutinitas membuat sebagian mahasiswa merasa bahwa kegiatan praktikum tidak terlalu berbahaya. Ada yang terburu-buru, lupa membawa jas laboratorium, atau menganggap risiko dalam praktikum fisika relatif kecil. Kondisi semacam ini menunjukkan adanya Safety Fatigue, yaitu menurunnya perhatian terhadap keselamatan karena aturan yang sama dilakukan berulang-ulang.
Justru anggapan seperti inilah yang perlu diwaspadai. Risiko tidak menjadi hilang hanya karena sebelumnya tidak pernah terjadi kecelakaan. Sebuah alat listrik yang selama ini digunakan dengan aman tetap memiliki potensi bahaya apabila prosedur diabaikan. Demikian pula alat praktikum lainnya. Keselamatan tidak boleh diukur hanya berdasarkan ada atau tidaknya kecelakaan, tetapi berdasarkan seberapa baik kita mencegah kecelakaan terjadi.
Di sinilah peran dosen dan laboran menjadi penting. Keselamatan perlu terus diingatkan, bukan hanya ketika praktikum pertama dimulai. Pemeriksaan alat sebelum digunakan, penataan meja kerja, penggunaan perlengkapan pelindung, serta kebiasaan melaporkan kondisi alat yang bermasalah harus menjadi rutinitas. Pengawasan juga tidak semata-mata bertujuan mencari kesalahan mahasiswa, tetapi membentuk kebiasaan agar bekerja dengan hati-hati menjadi bagian dari karakter mereka.
Pada saat yang sama, fasilitas tetap perlu mendapat perhatian. Beberapa peralatan membutuhkan pemeliharaan dan kalibrasi secara berkala. Ketersediaan perlengkapan pertolongan pertama, kesesuaian alat pelindung diri, kondisi peralatan, serta kejelasan tanda keadaan darurat harus terus dievaluasi. Laboratorium yang aman bukan hanya laboratorium yang memiliki banyak peralatan, tetapi yang memastikan setiap fasilitas dapat digunakan secara layak dan mendukung kegiatan secara aman.
Bagi mahasiswa Pendidikan Fisika, pembiasaan tersebut memiliki makna yang lebih luas. Mereka bukan hanya calon pengguna laboratorium, tetapi juga calon pendidik. Ketika kelak mengajar di sekolah dan membimbing peserta didik melakukan eksperimen, mereka akan membawa kebiasaan yang terbentuk selama kuliah. Guru yang terbiasa mengutamakan keselamatan akan lebih mudah menanamkan sikap serupa kepada siswanya.
Karena itu, K3 seharusnya tidak berhenti sebagai aturan yang ditempel di dinding laboratorium. Ia perlu hadir dalam cara mahasiswa berpikir dan bertindak. Disiplin menggunakan alat, mengenali potensi bahaya, menjaga kebersihan, mengikuti prosedur, serta berani melaporkan kondisi yang tidak aman merupakan bagian dari pendidikan karakter sekaligus kompetensi profesional.
Pada akhirnya, laboratorium bukan sekadar tempat mahasiswa membuktikan bahwa teori bekerja. Di dalamnya mereka juga belajar bagaimana bekerja dengan benar, bertanggung jawab, dan aman. Pembelajaran akan menjadi lebih bermakna ketika hasil eksperimen berjalan seiring dengan terbentuknya sikap profesional.
Kita tidak seharusnya menunggu kecelakaan untuk menyadari pentingnya keselamatan. Laboratorium justru harus menjadi tempat mahasiswa belajar mengenali risiko sebelum risiko berubah menjadi insiden. Sebab, pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan orang yang mampu melakukan sesuatu, tetapi juga orang yang tahu bagaimana melakukannya dengan aman dan bertanggung jawab.
Penulis adalah Dosen Pendidikan Fisika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. E-mail: fera.annisa@ar-raniry.ac.id
